Deskripsi Katalog :
Buto adalah representasi dari nafsu angkara murka dalam tradisi pewayangan. Dalam seni Wayang Topeng Malangan, Buto tampil sebagai tokoh raksasa atau musuh besar yang memiliki tubuh besar, tenaga kuat, namun tidak disertai kecerdasan dan ketenangan. Ia digambarkan berwatak ampyak ceroboh, gaduh, dan suka membual serta ngawur, bertindak semaunya tanpa pertimbangan dan logika yang matang.
Topeng Buto memiliki bentuk paling ekstrem dan ekspresif: rahang besar, mata melotot atau juling, taring menyembul, lidah menjulur, serta alis tebal mencuat ke atas. Warna-warna mencolok seperti merah terang, biru tua, atau hijau tua digunakan untuk menonjolkan karakter agresif, beringas, dan tidak terkendali. Ukiran topeng penuh detil yang mencerminkan sifat liar dan tidak beraturan.
Dalam pertunjukan, gerakan tokoh Buto biasanya kasar, besar, dan mengandalkan tenaga. Ia menjadi sosok yang menantang para kesatria dalam lakon-lakon besar, namun pada akhirnya dikalahkan oleh tokoh utama yang lebih bijak dan tenang. Meski berperan sebagai antagonis, kehadiran Buto penting sebagai penyeimbang moral dan pencipta konflik dramatik.
Makna Artistik dan Filosofis :
Tokoh Buto menggambarkan sisi gelap manusia: ambisi tanpa kendali, kekuatan tanpa arah, dan emosi tanpa akal. Dalam falsafah Jawa, Buto bukan hanya makhluk jahat, tetapi juga peringatan akan bahaya jika manusia dikuasai oleh nafsu, amarah, dan kebodohan. Ia mengajarkan bahwa kekuatan tanpa kebijaksanaan justru akan menghancurkan diri sendiri.
Catatan Kuratorial :
Topeng Buto adalah salah satu karya paling ekspresif dalam Wayang Topeng Malangan. Keberaniannya dalam bentuk dan warna mencerminkan kebebasan estetika, sekaligus menyimpan kritik sosial dan spiritual yang dalam. Sebagai artefak budaya, tokoh Buto menghadirkan refleksi tentang pentingnya kendali diri dan keseimbangan antara kekuatan
lahir dan batin.
